Komentar dan Dukungan Para Ibu Soal Kisah Viral “Layangan Putus”
 

Komentar dan Dukungan Para Ibu Soal Kisah Viral “Layangan Putus”

Layangan Putus/ Foto: Gstatic.com

Poin Ekstra

Tidak ada satu pun manusia di dunia ini mengetahui nasib perjalanan rumah tangga yang dibangunnya. Ada yang berakhir bahagia hingga usia tua, namun ada juga yang berakhir mengenaskan dikalahkan prahara. Kehidupan memang menyimpan banyak kejutan, tugas manusia adalah menjalaninya dengan hati yang lapang. Beredarnya cerita tentang tragedi rumah tangga seorang wanita yang diunggahnya lewat tulisan yang berjudul “Layangan Putus”, membuat banyak kalangan berharap bahwa kisah itu hanyalah sebuah dongeng belaka. Ketika berita tersebut dilemparkan di hadapan Netizen, komentar-komentar bermunculan mewarnai dunia maya. Apa sajakah yang ingin mereka sampaikan kepada keluarga yang berduka?

Murni Lestari  - 3 November pukul 10.18

Hasil gambar untuk layangan putusLayangan Putus/ Foto: Blogpictures.99.co

Saya jadi ingat dulu Hotman Paris pernah memberi nasehat buat emak-emak pasca perceraian Bambang Tri dan Hamidah. Sama nyeseknya perceraian mereka dengan kisah layangan putus. Bedanya perceraian Bambang Tri Hatmojo, laki- laki yang mengguggat cerai secara luar biasa. Sedang Hamidah mati-matian mempertahankan biduk rumah tangga mereka. Makin nyesek lagi, Hakim ketua mengabulkan gugatan Bambang. Finally, Mayang Sari bebas berkuasa atas diri Bambang seutuhnya. Hotman Paris waktu itu menghimbau, jangan bercerai. Apapun yang terjadi jangan bercerai. Jika bercerai berarti memberi jalan tol buat si pelakor. Saya kecewa sekali jika ending dari #LayanganPutus adalah perceraian. Saya ingin ending nya si Mommy bertahan demi anak- anak. Sampai anak- anak dewasa atau setidaknya mandiri. Paling tidak saat Mommy mereka di perlakukan tidak adil oleh Ayah dan Si Lala, si Anak bisa membela Mommy nya.  Betul- betul sangat sedih dan nyeseg. "Mommy kenapa memilih bercerai. Mengalah lah untuk menang. Demi anak- anak mu". Saya hanya ingin mengatakan itu. Mudah- mudahan kisahnya seperti Aa Gym dan Teh Ninih. Bersatu kembali. Demi anak- anak.

Merindu Senja - 3 November pukul 20.10

Sebelumnya, saya sangat bersimpatik pada mommy asf atas keputusannya untuk memilih berdiri sendiri dan semoga berkah kedepannya semakin melimpah. Disini saya ingin ikut berkomentar, menanggapi beberapa opini yang sedikit mengusik pikiran dan hati saya. Terutama opini opini yang terlontar dari seorang laki laki yang mungkin sudah memiliki anak dan istri.  Soal poligami dan pemahaman seorang wanita akan ajaran agama. 

Jika memang saya salah mohon maaf, karena saya sendiri bukan termasuk umat yang taat akan agama saya, ilmu saya masih tergolong sangat dangkal. 

Kenapa disini saya ingin membahas soal pokigaminya? Karena beberapa bapak bapak berkomentar. Kenapa banyak kaum emak emak yang menentang poligami. Padahal dalam agama hal itu bahkam tidak dilarang. Bahkam sampai ada yang mengusik soal pengetahuan akan ilmunya. Saya disini sebagai sesama wanita, sesama ibu yang mungkin dalam situasi yang sama. Yang tengah dikhianati dan dikecewakan oleh laki laki yang bahkan sudah mengucap sumpah dihadapan Allah dan mengambil tanggung jawab atas diri saya dari ayah saya.

Hasil gambar untuk layangan putusLayangan Putus/ Foto: Keepo.me 

Saya berkomentar bukan karena saya merasa senasib dan jadi membela mommy asf. Saya hanya ingin mengutarakan , betapa mirisnya saya akan kebobrokan akhlak namun membawa nama baik agama dan hal hal yang agama ajarkan. Yang saya tangkap dari apa yang mommy asf ceritakan, itu bukan poligami. 

Jika mungkin pada akhirnya disebut poligami oleh negara itu hanya simbolis.  Sekarang lagi marak suami berselingkuh, saat sudah kepalang tanggung tidak bisa melepaskan diri dari wanitanya pada akhirnya membawa selingkuhan dihadapan istri pertama dengan membawa tameng Agama dan ajarannya. Dengan janji janji yang sudah pasti tidak akan dapat ditepati. Padahal dalam ajaran poligami sendiri memiliki adab yang panjang, baik dan sangat mulia. Sangat picik, apalagi harus dilakukan oleh tokoh2 yang dianggap berakhlak dan mengerti agama. Mencoreng ajaran agama hanya untuk menutupi betapa bobroknya akhlak manusia itu sendiri.

Sedang poligami sendiri adalah sebuah bentuk untuk memulyakan. Lalu apakah masih dapat dikatakan mulya, jika setelahnya justru berakhir nestapa untuk anak anaknya. 

Perceraian adalah jalan terakhir yang ditempuh saat salah satu diantaranya tidak dapat menjaga komitmen dalam hubungan rumah tangga. Meskipun demikian, perceraian tidak dapat dianggap sebagai jalan keluar terburuk karena pihak yang tersakiti akan semakin merasa terzolimi jika mempertahankannya.
 

Poin Ekstra

Artikel ini dibuat oleh tim Playworld Indonesia

Alfa Anggraini
06 Nov 2019

2 Poin Ekstra

  1. Pastikan sudah login
  2. Tulis komentar dengan minimal terdiri dari 50 kata
  3. Poin hanya diberikan 1 kali untuk 1 User per 1 Artikel
  4. Seluruh komentar dimoderasi oleh tim Playworld ID dan bisa dihapus dan akan mengurangi total POIN jika komentar mengandung konten SARA, atau tidak sesuai dengan artikel yang dibaca
  5. Hanya user dengan keanggotaan VIP yang bisa memberikan komentar.




Extra POIN +2
Kamu mendapat tambahan POIN karena telah memberikan KOMENTAR
SELAMAT!
Kamu Mendapatkan
SELAMAT!
Kamu Mendapatkan
POIN Ekstra : +2

!
Pastikan selalu men-share dalam mode PUBLIC, jika tidak team PLAYWORLD.ID berhak untuk mendiskualifikasi kemenangan kamu.